Thailand tampung air suci untuk ritual penobatan raja

Bangkok (ANTARA) – Thailand mulai menyelenggarakan upacara-upacara ritual pada Sabtu untuk menyongsong penobatan Raja Maha Vajiralongkorn bulan depan, dengan para pejabat mengumpulkan air dalam upacara-upacara di seluruh negeri itu untuk digunakan dalam upacara pemurnian.

Penobatan yang rumit untuk Raja Vajiralongkorn akan berlangsung selama lebih tiga hari, 4-6 Mei, di ibu kota Bangkok dengan banyak ritual dalam agama Buddha dan Brahmana dilakukan di bulan ini hingga upacara tersebut.

Raja Vajiralongkorn, 66 tahun, menjadi raja konstitusional Thailand setelah ayahnya Raja Bhumibol Adulyadej mangkat tahun 2016. Raja Bhumibol berkuasa selama 70 tahun.

Penobatannya tertunda hingga masa berkabung atas kematian Bhumibol yang dikremasi pada Oktober 2017 selesai.

Bagi sebagian besar rakyat Thailand, penobatan itu akan menjadi yang pertama dalam hidup mereka.

Air yang dikumpulkan pada Sabtu akan digunakan untuk raja dalam upacara-upacara penyucian pada 4 Mei sebelum ritual pemakaian mahkota.

Penggunaan air berdasarkan tradisi Brahmana yang berlangsung pada upacara-upacara penobatan abad ke-18 sejak berdirinya Dinasti Chakri. Sabtu merupakan Hari Chakri di Thailand.

Raja Vajiralongkorn bergelar Rama X, atau raja ke-10 dari Dinasti Chakri.

Air dikumpulkan secara simultan antara pukul 11.52 waktu setempat hingga 12.38 pada Sabtu – waktu yang dipandang pertanda baik dalam astrologi Thailand – oleh para pejabat senior dari lebih 100 sumber air di 76 provinsi di Thailand.

Upacara itu siarkan di saluran-saluran televisi Thailand.

Air itu, yang ditampung dalam wadah-wadah tradisional – akan dibacakan doa dalam upacara-upacara sesuai agama Budha di kuil-kuil utama di seluruh negeri pada 8 hingga 9 April, sebelum digabungkan dalam upacara pengkudusan di Wat Suthat, salah satu kuil tertua di Bangkok, pada 18 April.

Sumber: Reuters

Baca juga: Bangkok semprotkan air untuk atasi polusi

Baca juga: Bangkok berhias bunga kuning saat prosesi kremasi Raja

Penerjemah: Mohamad Anthoni
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2019