Pegiat Myanmar ditangkap setelah protes patung pahlawan kemerdekaan

Yangon (ANTARA News) – Sejumlah pegiat di bagian timur Myanmar menghadapi dakwaan-dakwaan mengadakan pertemuan tanpa izin, kata seorang pemimpin pegiat pada Jumat (8/2), setelah polisi membubarkan protes paling terbaru menentang pembangunan sebuah patung Aung San, pahlawan kemerdekaan dan ayah pemimpin negara itu Aung San Suu Kyi.

Polisi menahan 36 orang pada Kamis di luar markas Liga Nasional bagi Demokrasi, yang dipimpin Suu Kyi, di Loikaw, ibu kota negara bagian Kayah, kata Di Di, juru bicara Komite Kamp Protes Gerakan Pemuda Karen.

Ditambahkan, 10 orang lagi ditangkap pada Jumat.

Satu video yang diunggah di Facebook kelompok lain, Uni Pemuda Negara Karen, menunjukkan polisi menarik paksa sejumlah pemuda dan pemudi yang duduk ketika mereka menyanyikan lagu protes. Video itu tidak diverifikasi secara mandiri oleh Reuters.

Seorang petugas keamanan yang menjawab telepon di kantor polisi Loikaw menolak berkomentar, dan para pejabat negara bagian itu tidak dapat dihubungi.

Baca juga: Kepala perwakilan PBB di Myanmar khawatirkan bentrokan di Rakhine

Protes-protes mulai berlangsung tahun lalu setelah pemerintah Kayah mengumumkan rencana-rencana membuat patung berwarna emas Jenderal Aung San menunggang seekor kuda, yang diresmikan bulan ini.

Para anggota minoritas Karen menentang monumen seorang pemimpin dari mayoritas Burma di negara itu.

Aung San, pendiri angkatan bersenjata Myanmar, dipandang telah menyatukan suku-suku minoritas di negara itu sebelum pembunuhannya pada 1947. Namun, kelompok-kelompok minoritas mengatakan tujuan dari pembentukan sistem federal yang adil belum tercapai.

Puterinya, Suu Kyi, menang dalam pemilihan pada 2015 tapi berbagi kekuasaan dengan militer. Ia memerlukan dukungan dari kawasan-kawasan kelompok minoritas agar menang dalam pemilihan tahun depan dan menjamin perdamaian dengan kelompok-kelompok bersenjata yang berjuang demi hak-hak minoritas dan otonomi.

(Uu.SYS/B/M016/G003) 09-02-2019 14:33:21

Pewarta:
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019