Enam orang cedera dalam pemburuan pemberontak oleh tentara Myanmar

Yangon (ANTARA) – Sedikitnya enam orang luka-luka terkena tembakan ketika tentara Myanmar memburu pemberontak etnis Rakhine di Mrauk U, kota di bagian barat negara itu, kata penduduk pada Selasa. 

Sementara itu, militer mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan satu konvoi militer disergap saat memasuki kota kuil yang bersejarah tersebut.

Tentara bergerak ke kota itu pada Senin malam, menandai peningkatan kekerasan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, tempat selama beberapa pekan belakangan pasukan keamanan melancarkan serangan terhadap .kelompok militan yang disebut dengan Tentara Arakan.

Sementara Negara Bagian Rakhine mendapat perhatian dunia setelah tentara dengan aksi-aksinya menyebabkan sebanyak 700.000 Muslim Rohingya melintasi perbatasan menuju Bangladesh di pengujung tahun 2017, masyarakat etnis Rakhine sebagian besar merupakan penganut Budha seperti mayoritas rakyat Myanmar.

Pihak militer menyatakan para pemberontak menyerang konvoi militer yang mendekati Mrauk U sebelum mundur ke rumah-rumah di kota tersebut.

Dalam satu pernyataan disebutkan terjadi kontak senjata.

Myo Oo Khaung Sayataw, seorang biksu di kota itu, mengatakan dia telah membawa mereka yang luka-luka ke rumah sakit pada Senin malam. “Saya keluar ke arah orang-orang yang cedera karena tak seorang pun berani keluar rumah,” kata dia. “Saya lihat enam mobil militer, mereka menembak ke berbagai arah,” katanya.

Menurut dia, seorang anak perempuan yang berusia tujuh tahun menderita luka bakar dan termasuk di antara para korban itu.

Tun Thar Sein, anggota parlemen wilayah, mengatakan kepada Reuters bahwa dia telah membesuk enam orang yang cedera di rumah sakit.

Mrauk U, bekas ibu kota kerajaan kuno, terkenal di kalangan para turis asing yang datang untuk melihat ratusan pagoda yang berumur beberapa abad, yang diinginkan Myanmar masuk dalam dalam Warisan Dunia.

Penduduk mengatakan bentrokan-bentrokan telah membuat mereka takut untuk keluar rumah.

“Saya tidak berani keluar rumah karena terjadi penembakan,” ujar Shhwe Tun Aung, warga Mrauk U yang dihubungi lewat telepon. “Saya tutup pintu dan saya masih di dalam rumah hingga sekarang. Situasi tidak aman, warga sipil dalam kesulitan.”

Juru bicara militer tidak menjawab panggilan telepon dari Reuters untuk dimintai komentar, tetapi pernyataan yang dimuat di laman Jenderal Senior Min Aung Hlaing menggambarkan pertempuran itu sebagai penyergapan.

“Para teroris menyerang satu konvoi militer yang masuk ke kota Mrauk U untuk melakukan pengamanan,” menurut pernyataan tersebut. “Para teroris berlindung di rumah-rumah warga sipil.”

Sumber: Reuters

Baca juga: Utusan PBB: situasi di Myanmar harus diserahkan ke ICC
Baca juga: Utusan PBB: Nyaris tak ada harapan buat pengungsi Rohingya

Penerjemah: Mohamad Anthoni
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019