“Bohemian Rhapsody” puncaki box office

Tiga film baru berhasil menguasai tiga peringkat tertinggi box office, dengan film biopik “Bohemian Rhapsody” menempati puncaknya, dilansir Boxofficemojo, Senin.

Film yang mengisahkan perjalanan jatuh bangun band Queen dan vokalisnya Freddie Mercury, menduduki peringkat pertama box office, berpendapatan debut 50 juta dolar AS (sekitar Rp747,6 miliar).

“Bohemian Rhapsopdy” juga mengisahkan bagaimana lagu-lagu terkenal dari Queen, seperti “Another Bites the Dust”, “We Will Rock You” dan “Bohemian Rhapsody” muncul dan terkenal.

Posisi kedua ditempati film baru lainnya dari Disney yakni “The Nutcracker and the Four Realms”. Film yang dibintangi sederet aktor/aktris papan atas Hollywood seperti Keira Knightley dan Morgan Freeman meraup pendapatan debutnya sebesar 20 juta dolar AS (sekitar Rp299 miliar).

“The Nutcracker and the Four Realms” merupakan film live-action Disney SBOBET terbaru yang diangkat dari kisah klasik “The Nutcracker” karangan E.R.A. Hoffmanss.

Film baru lainnya yakni “Nobody’s Fool” yang menduduki peringkat ketiga. Film bergenre komedi garapan Tyler Perry ini meraih pendapatan debut 14 juta dolar AS (sekitar Rp209,3 miliar).

Ada pun “A Star is Born” yang pekan lalu menduduki peringkat kedua terpaksa harus puas menempati posisi keempat dalam daftar box office pekan ini.

Sedangkan sang penguasa puncak box office pekan lalu “Halloween” lengser ke posisi lima pada pekan ini.

Ralph Fiennes: Saya masih belajar menjadi sutradara

Roppongi, Tokyo (ANTARA News) – Aktor, sutradara dan produser film asal Inggris, Ralph Fiennes, yang telah menyelesaikan film garapannya yang  ketiga; “The White Crow”, mengaku masih belajar untuk menjadi sutradara yang baik.

Dalam film terbarunya itu, Ralph Fiennes tidak hanya menjadi sutradara atau film director namun turut memainkan sosok Pushkin dalam “The White Crow” yang mengangkat cerita seniman muda dari buku “Rudolf Nureyev: The Life” karya Julie Kavanagh.

“Saya rasa, saya masih belajar menjadi sutradara. Mimpi saya adalah kembali menjadi sutradara di kesempatan berikutnya,” kata Ralph Fiennes seusai pemutaran “The White Crow” di EX Theater Roppongi, Tokyo, Sabtu (27/10) malam.

Pemeran Gareth Mallory dalam “Skyfall” itu menyatakan akan terus belajar sebagai film director dan tidak mau terjun ke dunia sbobet indonesia editing karena saat ini ia masih sibuk menjadi aktor pada sejumlah film.

“Editing adalah proses yang membutuhkan skill tertentu. Dalam film ini, saya diberkati dengan kemampuan sinematografi para editor yang mendesain ini, juga para aktor,” katanya.

Baca juga: Ralph Fiennes hingga Chibi Maruko Chan melenggang di karpet merah TIFF
Ralph Fiennes di Festival Film Tokyo 2018, Sabtu (27/10). (ANTARA News/Alviansyah P)

Adapun pada tahun depan, Ralph mengatakan masih fokus pada pekerjaannya sebagai aktor, kendati ia berharap setelahnya bisa kembali duduk di kursi sutradara.

“Film ini baru saja selesai dan saya punya beberapa kesempatan berakting kembali pada tahun depan. Ada beberapa ide dan cerita yang akan diajukan kepada saya,” katanya.

“Dan saya rasa, pengalaman menjadi sutradara kali ini akan menjadikan saya lebih baik lagi di masa depan,” pungkas dia.

“The White Crow” merupakan film ketiga yang digarap Ralph Finnes sebagai sutradara setelah “The Invisible Woman” dan “Coriolanus”.

“The White Crow” yang menampilkan aktor muda Oleg Ivenko sebagai tokoh utama Rudolf Nureyev dan Adele Exarchopoulos sebagai Clara Saint, menjadi salah satu dari 16 film yang masuk dalam kompetisi TIFF 2018, setelah menyingkirkan 1.829 judul dari 109 negara dalam proses seleksi.

Baca juga: Cara Edwin satukan ide “Journey” dengan sutradara Asia

Baca juga: Juri kompetisi Festival Film Tokyo ogah baca sinopsis sebelum pemutaran

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

“A Man Called Ahok”, film keluarga yang meminjam kisah Ahok

Jakarta (ANTARA News) – “A Man Called Ahok” siap tayang pada 8 November 2018. Ini merupakan sebuah film drama keluarga yang meminjam kisah dari Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai tokoh cerita.

Film yang diambil dari buku karya Rudi Valinka ini tidak berbicara mengenai arus politik Ahok. Namun, di sini lebih menceritakan bagaimana sebuah karakter dapat terbentuk, apa yang membuat seorang Ahok menjadi sosok yang kita kenal seperti sekarang.

Drama hubungan antara Ahok dan ayahnya, Kim Nam menjadi fokus utama pada film. Kim Nam adalah pengusaha tambang di Belitung Timur yang dermawan sekaligus sosok ayah yang jujur dan teguh dalam pendirian.

Baca juga: Pakai body suit biar gemuk, Daniel Mananta dimarahi Ahok

Namun keteguhan Kim Nam terhadap prinsip hidup yang diyakininya sering tidak sejalan dengan keinginan Ahok sebagai anak. Seiring berjalannya waktu, Ahok tumbuh menjadi dewasa dan sedikit demi sedikit mulai memahami nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah sejak kecil. 

Kim Nam diperankan oleh dua aktor, yakni Chew Kin Wah sebagai Kim Nam tua dan Denny Sumargo sebagai Kim Nam muda. Kemampuan akting Denny Sumargo di sini pantas mendapat acungan jempol. 

Dengan lihainya, ia mampu membuat penonton terlibat secara emosional ketika menghadapi sebuah keadaan. Kim Nam mampu digambarkan oleh Denny sebagai sosok yang keras tapi juga lembut hati dan peduli pada orang sekitar.

Sementara Chew Kin Wah, tidak perlu diragukan lagi. Beberapa perannya sebagai seorang ayah yang cinta keluarga sudah ia buktikan dengan sangat cakap dan hal tersebut kembali terjadi di film ini.

Baca juga: Reaksi Ahok lihat Daniel Mananta pakai seragamnya

Sama seperti Kim Nam, Ahok juga diperankan oleh dua aktor yakni Daniel Mananta sebagai Ahok dewasa dan Eric Febrian, seorang putra asli Belitung yang menjadi Ahok remaja. 

Untuk Daniel, ini merupakan debut pertamanya menjadi aktor. Sebagai aktor pendatang baru, kemampuan akting Daniel layak diperhitungkan. Setidaknya ia mampu meniru gerak-gerik, gestur serta cara berbicara Ahok dengan fasih.

Selain empat nama di atas, “A Man Called Ahok” juga dibintangi oleh aktor dan aktris yang tak kalah mumpuni dalam berakting seperti Sita Nursanti, Eriska Rein, Donny Damara, Ferry Salim, Edward Akbar, Jill Gladys, Yayu Unru, Arswendy Nasution, Doni Alamsyah, Albert Halim dan lainnya.

Film arahan sutradra Putrama Tuta ini, benar-benar berbicara seputar hubungan Ahok bersama keluarga yang tak banyak diketahui orang. Proses Ahok terlibat dalam dunia politik pun hanya diceritakan sekelebat. Sedangkan kisah cintanya dengan Veronica Tan, juga tidak dihadirkan dalam film.

Baca juga: Cerita pengalaman pertama Daniel Mananta main film

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kisah nyata di balik “Bohemian Rhapsody”

Jakarta (ANTARA News) – Film “Bohemian Rhapsody” mengisahkan kemunculan band rock ikonik Inggris Queen yang fokus pada pentolannya, Freddie Mercury. 

Berikut adalah fakta dan fiksi di dalam film “Bohemian Rhapsody”, seperti dikutip dari Time, Minggu.

Apakah gigi Freddie Mercury sangat menonjol seperti gigi palsu Rami Malek?

Malek mengatakan ia memakai gigi palsu setahun sebelum pengambilan gambar agar bisa terbiasa bicara dan menyanyi saat mengenakannya. Gigi Mercury memang jadi salah satu ciri khas, meski tidak betul-betul menonjol seperti gigi Malek di film.

Mercury dilahirkan dengan empat gigi atas ekstra, membuat rahangnya maju. Asisten pribadinya, Peter Freestone, mengatakan bahwa gigi Mercury adalah sumber rasa tidak percaya dirinya sepanjang hidup, tapi dia dikabarkan takut menjalani operasi untuk memperbaikinya karena khawatir akan mempengaruhi kemampuan bernyanyi.

Apakah Queen merekam “Bohemian Rhapsody” di rumah pertanian di desa?

Studio rekaman di rumah pertanian di mana band itu membuat lagu “Bohemian Rhapsody” dikenal sebagai Rockfield Studios. Di film, Rockfield digambarkan sebagai tempat rekaman yang tak biasa dan eksperimental, tapi hingga saat ini bekas rumah pertanian itu masih dianggap sebagai studio premiere.

Baca juga: Bohemian Rhapsody, kisah Freddie Mercury dan lagu-lagu legendaris Queen

Apakah Freddie Mercury mencintai kucing sama seperti di film?

Ya. Mercury memiliki beberapa kucing sepanjang hidupnya. Berdasarkan memoir Freestone, Mercury bicara dengan kucing-kucingnya lewat telepon saat tidak sedang di rumah.

Apakah seksualitas Freddie Mercury tergambarkan secara akurat di film?

Salah satu hubungan terpenting dalam hidup Mercury adalah dengan Mary Austin (dimainkan oleh Lucy Boynton), yang ditemuinya sebelum dia terkenal. Dalam kehidupan nyata, Mercury dan Austin tinggal bersama dan menjalin asmara, bahkan bertunangan, selama beberapa tahun apda 1970-an. 

Meski hubungan mereka kandas ketika Mercury mulai tidur dengan lelaki, keduanya tetap berteman hingga akhir hayat.

Dalam film, ada sedikit ketegangan dalam hubungan mereka. Ketika asmara mulai memudar, Mercury mengatakan pada Austin bahwa dia berpikir dirinya biseksual, yang ditimpali, “Tidak Freddie, kamu gay”. 

Dalam film, fokusnya adalah hubungan seksual Mercury dengan lelaki, kenyataannya jauh lebih rumit. Berdasarkan buku memoir “Mercury and Me”, yang ditulis pasangannya Jim Hutton (diperankan Aaron McCusker), Mercury tetap menjalin hubungan seksual dengan perempuan dan laki-laki setelah Austin.

Baca juga: Spontanitas Freddie Mercury jadi tantangan untuk bintang “Bohemian Rhapsody”

Apakah Freddie Mercury bertemu Jim Hutton di salah satu pesta di rumahnya?

Tidak. Dalam wawancara pada 2006, Hutton mengatakan mereka bertemu di bar gay di London. Memang betul, mereka bertemu setelah Hutton awalnya menolak Mercury beberapa tahun lalu, tapi adegan di mana Mercury mencari Hutton di buku telepon sebelum menemuinya adalah sentuhan Hollywood. Kenyataannya, kata Hutton, mereka kebetulan saja bertemu bertahun-tahun kemudian di bar gay.

Kapan Freddie Mercury didiagnosis HIV?

Konser Live Aid pada 1985 digambarkan di film tak hanya sebagai klimaks cerita, tapi juga klimaks karir Mercury, yang kesehatannya menurun setelah didiagnosis HIV. Pada kenyataannya, Mercury baru didiagnosis HIV pada 1987, dua tahun setelah konser.

Apakah manajer Mercury, Paul Prenter, betul-betul mengkhianatinya?

Ada kebebasan interpretasi dalam membuat karakter Prenter (diperankan Allen Leech) di film. Di film, Prenter masuk televisi setelah dia dipecat karena membeberkan kehidupan pribadi Mercury. Pada kenyataannya, Prenter masih bekerja untuk Mercury saat konser Live Aid. Meski dia tak pernah membeberkan kehidupan pribadi Mercury di tayangan, dia melakukannya untuk media cetak.

Berdasarkan buku Hutton, Prenter menjual cerita untuk tabloid “The Sun” pada 1987 dengan judul “AIDS Membunuh Dua Kekasih Freddie”. Berita ini yang membuat Mercury memecat Prenter.

Penerjemah: Nanien Yuniar
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Film “Marlina Si Pembunuh” raih penghargaan AWFF 2018

Jakarta (ANTARA News) – Film Indonesia berjudul “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” yang dibintangi Marsha Timothy sukses meraih penghargaan Asian World Film Festival (AWFF) 2018 yang berlangsung di Culver City, Kalifornia, AS.

Film yang dalam bahasa Inggris berjudul “Marlina The Muderer in Four Acts” garapan sutradara Mouly Surya itu sukses meraih penghargaan juri khusus atau Snow Leopard Special Jury Award di AWFF tahun ini, yang diumumkan, pada Jumat waktu setempat.

Penghargaan bergengsi untuk film karya anak bangsa itu diserahkan oleh Silvia Bizio dan Kimberly Cheng kepada Konsul Jenderal Republik Indonesia Simon D.I. Soekarno, menurut pengumuman resmi AWFF.

Dalam penghargaan juri AWFF ini “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” berhasil lolos menjadi salah satu dari tujuh yang terbaik di antara 17 film yang berkompetisi.

Bersama “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” adalah film Rusia “The Lord Eagle, Yakutia” arahan sutradara Eduard Novikov dinobatkan sebagai film terbaik atau Snow Leopard Best Film.

Kemudian penghargaan aktor terbaik diraih Akylbek Abdykalykov dari Kirgiztan dalam film “Night Accident”, sedangkan sutradara baru terbaik direbut Konstantin Khabenakiy asal Rusia dalam film “Sobibor”.

Aktris terbaik direbut Zahraa Ghandour dari Irak yang bermain untuk film “The Journey”.

Emir Baigazin dari Kazakhstan mendapatkan penghargaan sebagai sutradara dan sinematografer terbaik untuk film “The River”.

Untuk kategori film terbaik pilihan audiens atau Audience Award terpilih film Singapura berjudul “Buffalo Boys” arahan sutradara Mike Wiluan.

Baca juga: Film Marlina tayang di Amerika Serikat
Baca juga: Film Marlina wakili Indonesia di Oscar 2019

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Sutradara “It” dan Leonardo DiCaprio akan garap “The Time Machine”

Jakarta (ANTARA News) – Sutradara “It” Andy Muschietti akan melakukan perjalanan waktu. Sutradara itu telah menjalin kemitraan dengan Leonardo DiCaprio dan studionya Appian Way untuk membuat film baru yang diadaptasi dari novel “The Time Machine” karya H.G, Wells tahun 1895.

Muschietti akan menyutradarai proyek film itu, dan membuat “The Time Machine” bersama adiknya Barbara Muschietti, sedangkan DiCaprio akan memproduksi film tersebut dengan mitranya Jennifer Davisson.

Film adaptasi baru ini juga akan diproduksi bersama Warner Bros. dan Paramount. Demikian dilansir Hollywood Reporter, Kamis (1/11) waktu setempat.

Kisah novel itu menceritakan tentang seorang ilmuwan di era Victoria yang melakukan perjalanan waktu 802 ribu tahun ke masa depan, menemukan manusia telah terbagi menjadi dua spesies yakni Eloi dan Morlocks.

Ilmuwan itu juga terpisah dari mesin waktunya dan harus berjuang melawan Morlocks untuk bisa pulang kembali ke zamannya.

Novel ini pernah diadaptasi oleh George Pal pada tahun 1960, yang juga pernah membuat versi modern novel Wells lainnya yakni “The War of the Worlds” tujuh tahun sebelumnya.

“The Time Machine” juga pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 2000 oleh Simon Halls dan dibintangi Guy Pearce.

Muschietti saat ini sedang menggarap “It: Chapter 2” dan baru-baru ini ditunjuk untuk membuat film live-action “Attack on Titan” untuk Warner Bros.

Baca juga: Leonardo Dicaprio, Brad Pitt terlibat film baru

Baca juga: Film-“It” kisah persahabatan melawan teror badut
 

Penerjemah: Aji Cakti
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Juri kompetisi Festival Film Tokyo ogah baca sinopsis sebelum pemutaran

Roppongi, Tokyo (ANTARA News) – Para juri dalam sesi kompetisi Festival Film Tokyo 2018 (Tokyo International Film Festival/TIFF) enggan membaca sinopsis sebelum menyaksikan pemutaran 16 film yang dilombakan, dengan harapan mendapat kejutan dari film-film festival itu.

Pimpinan juri kompetisi, Brillante Ma Mendoza asal Filipina, mengatakan salah satu kesenangan dalam menyaksikan film adalah menemukan kejutan dalam jalan ceritanya, sehingga ia ogah membaca sinopsis.

“Kesenangan menonton film tanpa mengetahui apa yang diharapkan bagaikan keajaiban,” kata Mendoza kepada wartawan di Toho Cinemas Roppongi, Tokyo, Jumat (26/10).

“Saya pikir penting untuk tidak terlalu mengikuti buku panduan ‘cara membuat film yang bagus’, tetapi lihatlah bagaimana film itu dapat menggerakkan dan cara mereka menggunakan bahasa sinematik,” ucap dia.

Produser asal Hollywood, Bryan Burk, yang menjadi juri kompetisi juga memastikan tidak akan membaca sinopsis 16 film yang dilombakan.

Baca juga: Nicholas Saputra cerita pengalaman pertama syuting di Myanmar

Beberapa film kompetisi di TIFF di antaranya “Amanda” (Prancis), “Another World” (Jepang), “The Poet” (China), “Cold Sweat” (Iran), “Siren Call” (Turki), “Three Husband” (Hong Kong) serta “White Crow” (Inggris).

“Saya sengaja tidak membaca sinopsis. Saya rasa kami akan melihat beberapa film hebat,” kata Burk.

Baca juga: “A Star Is Born” buka pesta pemutaran 200 film TIFF 2018

Aktris Iran, Taraneh Alidoosti, meyakini bahwa 16 film yang lolos merupakan karya-karya terbaik. Ia bahkan tidak mau mengetahui asal negara film tersebut untuk menjaga objektifitas.

“Ini adalah TIFF, jadi saya yakin semua filmnya bagus. Saya akan mencoba melupakan nama dan negara asal mereka, dan melihat hanya melalui sepasang mata saya,” kata Alidoosti.

Dua juri lainnya adalah produser asal Hong Kong, Stanley Kwan, dan artis Jepang Kaho Minami, yang juga berpandangan sama, tidak mau mengetahui sedikit pun tentang film sebelum pemutaran.

“Saya tidak ingin tahu apa-apa tentang 16 film ini sebelum saya tonton. Jika film itu bisa menggerakkan saya, itulah yang bagus,” kata Stanley Kwan.

Baca juga: Film Indonesia butuh perspektif perempuan

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Bohemian Rhapsody, kisah Freddie Mercury dan lagu-lagu legendaris Queen

Jakarta (ANTARA News) – Freddie Mercury adalah Queen, begitu juga sebaliknya. Kedua ikon ini memang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.

Tema inilah yang berupaya diangkat oleh “Bohemian Rhapsody”, sebuah film biopik tentang perjalanan band Queen, Freddie Mercury dan lagu-lagunya yang memorable.

Alkisah pada tahun 1970, seorang petugas bagasi bandara keturuanan Persia bernama Farrokh Bulsara  memiliki impian untuk menjadi penulis lagu sekaligus pemusik.

Setiap malam dirinya mengunjungi bar tempat band Smile yang dibentuk Brian May (Gwilym Lee) dan Roger Taylor (Ben Hardy) sering manggung. Kebetulan vokalis band tersebut baru saja keluar dan Farrokh direkrut oleh Brian serta May sebagai vokalis barunya.

Band yang kemudian diperkuat oleh pemain gitar bass John Deacon (Joseph Mazzello) ini berupaya membuat album pertamanya dengan single “Killer Queen”, menggunakan dana patungan yang berasal dari penjualan mobil milik band.

Band yang kemudian diberi nama Queen ini, kemudian mulai menggelar beberapa konser di sejumlah negara dan menghadapi beberapa tantangan khususnya kala berupaya melahirkan salah satu legendaris “Bohemian Rhapsody”.

“Bohemian Rhapsody” yang dinahkodai Bryan Singer ini berupaya tidak hanya menampilkan perjalanan jatuh bangun Queen di belantika musik, namun juga kisah di balik lahirnya lagu-lagu legendaris Queen dan yang paling menonjol adalah kehidupan pribadi sang vokalis Freddie Mercury yang sangat kontroversial.

Mendiang Freddie Mercury memang dikenal sebagai salah satu ikon yang mengakui dirinya adalah seorang LGBTQ dan pengidap AIDS.

Tak heran jika film ini terkena gunting sensor yang sangat keras, mengingat banyaknya adegan mesum dan berbau LGBTQ yang bertebaran di sana-sini dalam film tersebut. Sebuah fakta sejarah yang terkait erat dengan kehidupan flamboyan Freddie.

Terlepas dari kehidupan almarhum yang sangat kontroversial, alasan Freddie Mercury tetap dipuja sebagai legenda hingga sekarang adalah karena semangat hidupnya yang sangat kuat.

Hal ini terlihat saat dirinya tetap bersikeras untuk pentas dalam kondisi demam hebat akibat AIDS, namun berhasil tampil memukau dan menjadikan Queen sebagai bintang utama panggung acara amal Live Aid untuk Afrika tahun 1985.

Tak hanya kehidupan sang legenda yang menjadi motivasi, kisah ikatan kekeluargaan para personel band Queen yang sangat kuat menjadi inspirasi bagi penontonnya.

Saking menginspirasinya, gala premier “Bohemian Rhapsody” di Jakarta sampai dibuat dua gelombang karena banyaknya selebriti Indonesia yang ingin menyaksikan film ini menurut pantauan Antaranews di lokasi.

“Bohemian Rhapsody” yang dibintangi oleh Rami Malek, Gwilym Lee, Ben Hardy, Joseph Mazello dan sederet bintang lainnya ini akan tayang perdana pada 31 Oktober di bioskop-bioskop Indonesia.   

Baca juga: Addie MS: “Bohemian Rhapsody” lagu yang unik

Baca juga: Queen ingin hentikan Trump gunakan “We Are The Champions”

Baca juga: Bohemian Rhapsody ditafsirkan ke dalam balet

Baca juga: Queen peroleh penghargaan Living Legends

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Hayao Miyazaki akan terima penghargaan Career Achievement Award

Jakarta (ANTARA News) – Sutradara film animasi Hayao Miyazaki akan mnenerima penghargaan Career Achievement Award dari The Los Angeles Film Critics Association (LAFCA) dalam acara organisasi tersebut di Century City, California pada 12 Januari 2019.

Penerima penghargaan penting lainnya dari LAFCA akan dipilih oleh para anggota organisasi tersebut pada 9 Desember 2018, dan para pemenangnya akan mendapatkan kehormatan untuk duduk satu meja dengan Miyazaki dalam jamuan makan malam. Demikian dilansir The Hollywood Reporter, Selasa (23/10) waktu setempat.

Sepanjang kariernya, Miyazaki telah membuat “Spirited Away”, “My Neighbor Totoro”, “Princess Mononoke dan “Howl’s Moving Castle”. Dia juga merupakan salah satu pendiri Studio Ghibli di Jepang.

“Kami senang untuk memberikan Career Achievement Award kepada Hayao Miyazaki, yang membawa para anggota kami dan penonton di seluruh dunia ke dalam dunia imaginasinya yang memukau serta indah lewat film animasinya yang tematik dan memukau,” ujar Presiden LAFCA Claudia Puig saat mengumumkan penghargaan tersebut.

Menurut dia, cara Miyazaki menginspirasi perasaan takjub penonton tak tertandingi.

“Saya sangat mengagumi penggambarannya atas karakter-karakter wanita yang pemberani, berkemauan keras dan mandiri yang tidak membutuhkan pertolongan. Dia telah menjelaskan pendekatan sinematiknya yakni ‘Semua wanita sama mampunya sebagai pahlawan seperti pria’. Kata-kata ini sangat menggema pada saat ini,” tambahnya.

Miyazaki saat ini sedang menggarap film layar lebar berjudul “How Do You Live?”, yang akan tayang perdana pada 2020.

Baca juga: Museum Ghibli didatangi 10 juta pengunjung

Baca juga: Hayao Miyazaki kembali untuk buat film terakhir

Baca juga: Sutradara Ghibli Isao Takahata tutup usia

Baca juga: Jepang berencana buka taman bermain studio Ghibli

Penerjemah: Aji Cakti
COPYRIGHT © ANTARA 2018

LeBron James ingin buat ulang “Friday the 13th”

Jakarta (ANTARA News) – Pasca kesuksesan masif yang diraih “Halloween”, seri film horor lainnya akan dibuatkan versi reboot-nya.

LeBron James dari SpringHill Entertainment dan Vertigo Entertainmenr, yang pernah memproduksi “It”, sedang berunding untuk menjalin kemitraan dalam rangka menggarap kisah menyeramkan baru yang terjadi Camp Crystal Lake, demikian dilansir The Hollywood Reporter pada Senin (22/10) waktu setempat.

Meskipun ketertarikan intens dalam “Halloween” merupakan sebagian faktor yang mendorong rencana kerjasama penggarapan reboot “Friday the 13th”, faktor lainnya adalah masalah legal yang baru saja diputuskan pada bulan lalu, dimana penulis naskah asli film tersebut, yakni Victor Miller mendapatkan hak untuk penggarapan naskahnya.

Sedangkan sutradara sekaligus produsernya yakni Sean Cunningham masih bisa mengajukan banding, dan salah satu komponen yang belum dipersengketakan adalah siapa yang memegang hak cipta atas karakter Jason Vorhess.

Jason Vorhess merupakan anak kecil yang tewas dalam film pertama, kemudian bangkit kembali menjadi psikopat bertopeng hoki yang tak bisa dihentikan dalam seri film yang dibintanginya.

Penyelesaian atau sengketa hukum atas hak film ini kemungkinan bisa muncul ke depannya. Upaya lainnya untuk menghindari hal ini adalaha keputusan hukum yang mengindikasikan bahwa Miller akan menguasai hak cipta di area produser Amerika Serikat, sedangkan Warner Bros., yang membuat film terakhir dari Jason bersama New Line akan memegang hak cipta di beberapa wilayah internasional.

Rencana reboot dari SpringHill dan Vertigo itu masih bersifat dini, dengan belum adanya penunjukkan penulis maupun sutradaranya.

“Friday the 13th” pertama yang rilis tahun 1980 mengisahkan sekelompok pembimbing di Camp Crystal Lake yang dibantai satu demi satu oleh pembunuh tak dikenal.

Sang pelaku kemudian diketahui bernama nyonya Vorhees, ibu yang berupaya membalaskan dendam atas kematian putranya Jason, yang tenggelam di kamp karena para pembimbingnya alpa tidak mengawasi anak tersebut.

Baca juga: “Goosebumps 2: Haunted Halloween”, nostalgia teror masa kecil

Baca juga: “Halloween”: Kembalinya teror psikopat 40 tahun lalu
    

Penerjemah: Aji Cakti
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Garin apresiasi identitas Islam diberi kanal festival film

Jakarta, (ANTARA News) – Sutradara film nasional Garin Nugroho memberi apresiasi terhadap festival film madani yang memberikan kanal baru bagi identitas  keislaman. 

“Setiap film ada porsi dan tempatnya,  dan Islam tidak mengajarkan kekerasan,  itu baiknya dicerminkan dalam film agar mudah dipahami,” kata Garin dalam penutupan rangkaian festival film Madani di IFI, Jakarta,  Minggu. 

Garin juga sempat membuat esay film mengenai bagaimana peran Islam dalam menyatukan bangsa sejak zaman penjajahan. 

Sementara itu,  salah satu Dewan Festival film Madani Putut Widjanarko menjelaskan bahwa mendalami Islam bukam soal haram dan halal,  namun banyak kanal yang mulai tersedia untuk menunjukkan identitas keislaman, salah satunya melalui film. 

“Dengan melalui karya film membuat Islam lebih mudah dipraktikan oleh masyarakat. Penerapan ajaran juga bukan hanya tentang hukum-hukum agama saja,” kata Putut yang juga menjabat sebagai Vice President Mizan Publika. 

Sebelumnya, Pembukaan Madani Film Festival diwarnai isak tangis setelah dibuka dengan film berjudul Never Leave Me yang bercerita tentang kisah nyata nasib anak-anak pengungsi perang Suriah di perbatasan Turki.

Selain film itu, terdapat film lain garapan sineas Indonesia yang diputar seperti “Titian Serambut Dibelah Tujuh” karya Chaerul Umam. Juga terdapat “Laa Tahzan” (Danial Rifki), “Haji Backpacker” (Danial Rifki), “Mencari Hilal” (Ismail Basbeth), “The Blindfold” atau “Mata Tertutup” (Garin Nugroho), “Bid’ah Cinta” (Nurman Hakim), “Pengantin” (Noor Huda Ismail) dan satu pemutaran film kejutan karya Garin Nugroho.

Baca juga: Pembukaan Madani Film Festival diwarnai isak tangis

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018